"Saya dipukul bolak-balik. Saya lari ke belakang, ke arah fasilitas hunian sementara (mess). Dia kejar sambil bilang, 'Lari lu, mau ke mana lu, mau mati sekarang lu?'," kata salah satu operator SPBU 3413901 Lukman Hakim (19) di Jakarta Timur, Senin.
Operator SPBU yang baru enam bulan bekerja setelah lulus SMK tersebut menjelaskan, insiden bermula saat dirinya bertugas pada sif malam Minggu (22/2) sekitar pukul 22.00 WIB.
"Awalnya saya lagi jaga malam, situasi lagi santai. Datang mobil pelaku masuk untuk isi bahan bakar minyak (BBM). Saya tunggu barcode-nya, tapi beberapa menit belum ditunjukkan," ujar Lukman.
Menurut Lukman, antrean kendaraan di belakang mulai mengular sehingga dia berinisiatif mempercepat proses dengan meminta kode batang (barcode) subsidi yang menjadi syarat pengisian sesuai prosedur Pertamina.
Namun, situasi mendadak memanas ketika kode batang yang ditunjukkan tidak sesuai dengan jenis kendaraan yang digunakan.
Lukman menyebut pelat nomor kendaraan memang sama, tetapi data dan jenis kendaraan dalam barcode berbeda.
"Mobilnya seperti Alphard, tapi di 'barcode' tertulis jenis Kijang. Sesuai standar operasional prosedur (SOP) dari Pertamina, walaupun pelatnya sama tapi kalau barcode beda, kita tidak boleh isi," ucap Lukman.
Diduga tak terima ditegur, pria tersebut langsung marah-marah di area pengisian. Bahkan, pelaku berteriak dan sempat menantang para petugas.
"Seperti menantang, dia bilang, 'siapa yang berani sama saya?'," kata Lukman.
Keributan berlanjut saat Lukman memanggil staf untuk memastikan kebijakan pengisian. Pelaku semakin emosi dan mendorong salah satu staf yakni Ahmad Khoirul Anam hingga kepalanya terbentur ke mobil pelaku.
Seorang perempuan yang berada di dalam mobil sempat terdengar melarang tindakan kasar tersebut.
Tak berhenti di situ, pelaku kembali menghampiri petugas lain dan menampar salah seorang staf yakni seorang rekan mereka, Abud Mahmudin yang hendak menenangkan situasi juga ikut menjadi sasaran pemukulan.
Lukman juga mengira pelaku telah meninggalkan lokasi setelah mobilnya sempat bergerak maju. Namun, pria tersebut kembali turun dan menghampirinya saat dia sedang menghitung uang setoran.
Ancaman tersebut membuat Lukman panik dan berusaha menyelamatkan diri.
Dia berlari menjauh dari area SPBU hingga akhirnya warga menyarankan agar dirinya segera menuju kantor polisi terdekat.
"Saya dipukul bolak-balik sama dia. Nah, baru saya lari ke belakang. Lari ke mes dikejar sama dia. Warga ngomong langsung bilang ke Polsek, ya udah saya lari ke Polsek," jelas Lukman.
Usai menyelamatkan diri ke Polsek Pulogadung, pelaku ternyata sudah pergi dan tak kembali mengejar Lukman.
Sementara itu, dua korban lainnya tetap berada di lokasi untuk meredakan situasi. Salah satu korban yakni Anam bajunya robek akibat tarik-menarik dan pemukulan.
Keributan disebut berlangsung cukup lama, diperkirakan hampir satu jam sejak sekitar pukul 22.00 WIB hingga menjelang pukul 23.30 WIB.
Setelah menerima laporan lisan dari korban, petugas kepolisian dari Polsek Pulogadung setempat mendatangi lokasi bersama Lukman untuk mencari pelaku. Namun, saat dilakukan pengecekan, pria tersebut sudah tidak berada di tempat.
Rekaman kamera pengawas (CCTV) di area SPBU kemudian diperiksa bersama kepolisian, termasuk jajaran dari Polda. Barang bukti rekaman disebut telah diamankan untuk proses lebih lanjut.
"CCTV sudah dilihat sama Polsek dan Polda. Barang buktinya ada semua. Setelah itu baru disarankan untuk buat laporan resmi," ujar Lukman.
Hingga kini, polisi masih melakukan pendalaman terkait identitas pelaku yang diduga aparat tersebut.
Berharap diproses
Para korban berharap kasus ini dapat diproses secara transparan dan profesional agar memberikan rasa aman bagi pekerja SPBU yang menjalankan tugas sesuai prosedur.
Dihubungi secara terpisah, pemilik SPBU 3413901 Ernesta mengatakan, dirinya sudah melaporkan langsung kejadian penganiayaan terhadap pegawainya ke Polsek Pulogadung.
"Kami sudah laporkan juga ke Polsek Pulogadung seberang SPBU. Dan pegawai-pegawai saya yang luka-luka juga sudah di visum," kata Ernesta.
Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Metro Jaya juga mendatangi SPBU itu, terkait kasus penganiayaan tersebut.
Sebelumnya, tiga pegawai SPBU itu diduga menjadi korban penganiayaan oleh seorang oknum aparat.
Total ada tiga korban dalam kejadian tersebut, yakni satu staf dan dua operator.
Mereka adalah Ahmad Khoirul Anam, yang telah bekerja sekitar lima tahun sebagai staf, Lukmanl Hakim, operator yang baru enam bulan bekerja setelah lulus SMK dan Abud Mahmudin, operator dengan masa kerja sekitar empat tahun.
Khoirul Anam kena tamparan di pipi, Lukman dipukul di rahang sebelah kanan. Sementara Abud dipukul di bawah mata dan di pipi dekat mulut sampai giginya copot.